LUKA BAKAR
Lima Yang Pertama
I. Klasifikasi Luka Bakar Berdasarkan Dalamnya Luka
Luka bakar biasanya digolongkan berdasarkan dalamnya luka yang terbentuk (kerusakan jaringan)
A. Luka Bakar Derajat Satu
Adalah luka bakar yang terbatas pada epidermis superfisial
1.
Dapat terlihat dalam bentuk eritema dan edema, biasanya tidak terdapat
lepuh (blister), kulit bisa saja mengalami pengelupasan
2. Biasanya sangat nyeri
3. Tidak terbentuk jaringan parut dalam proses penyembuhan
4. Misalnya: luka bakar akibat terpajan sinar matahari
B. Luka Bakar Derajat Dua
Disebut
juga sebagai partial thickness burns, yang meliputi seluruh epidermis
dan sebagian dermis juga mengenai sebagian apendiks kulit. Luka bakar
derajat dua dapat terletak dangkal (superfisial) maupun dalam
1. Biasanya terdapat lepuh
2. Sensasi sensoris utuh, biasanya disertai rasa nyeri
3. Biasanya menyembuh tanpa membentuk jaringan parut, namun pada luka bakar yang dalam dapat menimbulkan jaringan parut
C. Luka Bakar Derajat Tiga
Disebut
juga sebagai full thickness burns, meliputi nekrosis (kematian
jaringan) yang mengenai seluruh lapisan kulit, termasuk seluruh apendiks
kulit.
1. Daerah yang terbakar terlihat berwarna putih
2. Kehilangan semua sensasi (mati rasa)
3. Hampir selalu terbentuk jaringan parut yang parah
D. Luka Bakar Derajat Empat
Dikenal
sebagai karbonisasi, dimana seluruh jaringan terbakar dan menjadi
arang. Terjadi kerusakan total pada kulit dan jaringan subkutan, dan
tulang juga mengalami karbonisasi baik sebagian maupun keseluruhan.
II. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Keparahan Luka Bakar
Tingkat keparahan luka bakar, dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:
A. Intensitas panas
Pada
kebakaran rumah, biasanya suhu berada pada kisaran di bawah 1200-1600o
F, sedangkan pada kebakaran yang terjadi akibat bahan bakar industri,
suhu yang dihasilkan lebih besar, yaitu sekitar 1900-2100o F
B. Durasi terpajan panas
Misalnya,
kulit manusia dipanaskan sampai 45o C selama 2 jam, maka kulit kan
menjadi hiperemik tanpa terjadi kerusakan epidermis, namun bila durasi
pajanan diperpanjang sampai 3 jam, akan terjadi kerusakan total atau
nekrosis pada epidermis
C. Pada
pelaksanaan pembakaran jenazah (kremasi) orang dewasa, alat yang
digunakan harus dipanaskan terlebih dahulu selama 1,5 jam dengan suhu
1500 o F
III. Pengumpulan Data Tentang Derajat dan Pola Luka Bakar
Pada
setiap kasus luka bakar, derajat dan pola luka bakar yang terjadi harus
didokumentasikan, dan sebaiknya pada diagram tubuh manusia (body
diagram) yang biasa digunakan.
A. Daerah
luka bakar, biasanya dinyatakan dengan menggunakan persentase dari
daerah permukaan tubuh secara keseluruhan atau Total Body Surface Area
(TBSA). Persentase dari TBSA ini bervariasi tergantung dari usia
individu tersebut. Beberapa nilai rata-rata yang tersedia yang biasa
digunakan untuk menentukan persentase luka bakar di antaranya:
1. Luas permukaan tubuh dengen usia
2. Pada orang dewasa, dapat digunakan ‘rule of nines’, sedangkan pada bayi dan anak kecil, dapat digunakan ‘rule of fives’
3. Diagram yang lebih teliti, biasanya digunakan di Pusat Penanggulangan Luka Bakar Militer
B. Pola
luka bakar harus dicatat dan didokumentasikan dengan teliti dan
hati-hati karena dapat menjadi petunjuk penting bagaimana terjadinya
luka bakar tersebut.
IV. Tingkat Harapan Hidup Pada Luka Bakar
Dapat
tidaknya luka bakar menyebabkan kematian, tergantung dari usia korban,
derajat luka bakar, dan persentase luas daerah tubuh yang terkena. Angka
probabilitas yang disederhanakan, dapat dilihat pada diagram 13.3.
Sedangkan pada tabel 13.2, dijelaskan bahwa angka harapan hidup pada
korban dengan luka bakar derajat dua dan tiga tergantung dari usia
individu bersangkutan.
V. Pakaian dan Luka Bakar
Adanya
pakaian berpengaruh terhadap kejadian luka bakar. Apabila pakaian yang
dikenakan korban ikut terbakar, maka angka kesakitan dan angka kematian
pada cedera yang terjadi akan sangat besar. Beberapa faktor yang
mempengaruhi hubungan antara luka bakar dengan pakaian yang dikenakan,
yaitu:
A. Jenis bahan pakaian dan ketahanannya terhadap api
1. Bahan
katun biasanya memberikan perlindungan yang sangat minimal, karena
katun lebih mudah dan lebih cepat terbakar dibandingkan jenis bahan
pakaian yang lain
2. Nylon,
polyester, dan wool dapat mengurangi resiko luka bakar, karena
bahan-bahan tersebut di atas, agak sulit terbakar. Sebagai tambahan,
wool mengurangi resiko yang timbul akibat luka bakar karena berat
bahannya, dan struktur jahitannya.
B. Model pakaian
Menggunakan
pakain yang pas dan sesuai ukuran tubuh, jauh lebih baik, dibanding
menggunakan pakaian yang panjang dan longgar, misalnya gaun pesta, dll.
Lingkungan dimana pakaian tersebut digunakan
Lima Yang Kedua
VI. Berdasarkan Penyebabnya, Luka Bakar Secara Kasar Dapat Dibagi Dalam Enam Kategori
A. Flame Burns
Terjadi bila kulit mengalami kontak langsung dengan api
1. Keparahan tergantung lamanya waktu kulit terpajan dengan api
2. Bentuk lain dari flame burns adalah flash burns
a. Disebabkan oleh ledakan yang berasal dari gas, atau berupa partikel- partikel halus suatu benda panas
b. Menyebabkan luka bakar derajat dua dan tiga pada seluruh daerah kulit yang terkena, termasuk rambut
B. Contact Burns
Terjadi
bila kulit mengalami kontak langsung dengan objek yang panas, misalnya
besi panas, setrika, dll. Jenis luka bakar ini, dapat memberikan
gambaran mengenai bentuk benda panas yang menyebabkan luka bakar
tersebut
C. Radiant Burns
Terjadi apabila kulit terpajan dengan gelombang panas
1. Tidak selalu diperlukan kontak langsung dengan benda yang menghasilkan gelombang panas untuk menimbulkan luka bakar
2. Dapat menimbulkan lepuh dan eritema
3. Bila pajanan terjadi dalam jangka waktu lama dapat meimbulkan karbonisasi
D. Luka terbakar terjadi bila kulit berhubungan dengan cairan panas
( biasanya air ).
1.
Air pada 158°F ( 70°C ) akan menghasilkan suatu luka derajat tiga pada
kulit orang dewasa, kira-kira dalam satu detik dari kontak ; pada 131°F (
55°C ), hampir 25 detik dibutuhkan untuk menghsilkan luka bakar
yangsama.
2.
Pemanas air hampir seluruh rumah di Amerika berasal dari pengaturan
pabrik kira-kira 130°-140°F, meskipun begitu, unit terbaru sekarang
disesuaikan menjadi sekitar 120°F.
3. Luka terbakar dapat dibagi menjadi 3 tipe :
a.
Luka imersi, yang mana bisa saja karena ketidaksengajaan atau
kecerobohan di rumah. Luka bakar imersi akibat kecerobohan di rumah
sering terjadi karena anak kecil ditempatkan di dalam kolam atau di bak
mandi yang di penuhi dengan air panas membara, dengan tujuan untuk
mendisplinkan atau menghukum si anak. Bentuk khas luka bakar dapat
terlihat, sebagai anak yang terrefleksi tenggelam di dalam air.
Disekeliling area dari kulit yang melingkari tiap-tiap daerah lutut
tidak terkena karena anak tersebut dipaksa berjongkok di dalam air. (
gambar 13.4 ).
Gambar
13.4 Penyiksaan anak dengan luka bakar. Anak biasanya dipegang diantara
tangannya, dan ke bawah pada air membara ( gambar bagian atas ). Hasil
luka bakar menunjukkan bentuk khas dengan tidak terdapat luka di bagian
lututnya, fossa poplitea, dan daerah inguinal ( gambar bagian bawah ).
b.
Luka bakar karena percikan, atau tumpahan biasanya tidak sengaja,
disebabkan karena memercikkan, menumpahkan cairan panas ke tubuh. Luka
akibat tumpahan dapat terjadi bila seorang anak kecil menuangkan pot
berisi air panas dari kompor, dan cairan tumpah ke seluruh tubuh. Di
beberapa kasus, bentuk dari luka bakar harus berhubungan dengan cerita,
dengan yang paling berat luka bakarnya dari kulit kepala atau kepala.
c.
Luka bakar hangat biasanya karena ketidaksengajaan. Uap yang sangat
panas dapat menyebabkan luka berat pada mukosa saluran napas. Pada
beberapa kasus, edema laring massif dapat terjadi, penyebab asfiksia dan
kematian.
E. Luka bakar karena microwave.
Microwave
adalah gelombang elektromagnetik yang mana frekwensi berkisar antara
30-300.000 MHz dan panjang antara 1mm sampai 30 cm. Radiasi microwave
adalah non-ionisasi, oleh karena itu, efek biologi primernya adalah
panas, yang mana memproduksi melalui agitasi molecular dari molekul
polar, seperti air. Pada system biologi, oleh karena itu, Jaringan
dengan komposisi air yang lebih tinggi ( seperti otot ) akan menjadi
lebih panas daripada jaringan dengan komposisi air yang lebih rendah (
seperti lemak ). Standar operasi untuk mikroawave di dapur adalah pada
2,450 MHz.
1.
Tergantung pada panjang gelombang radiasi, dan ketebalan, orientasi,
dan karakter dari target, apabila ada salah satu atau kombinasi dari
tiga hal ini :
a. microwave terrefleksi.
b. microwave diabsorbsi.
c. microwave melewati di keseluruhan target.
2.
Surell et al, pada 1987 melaporkan pada suatu studi yang mana piglet
anestesi terekspos pada radiasi microwave dari sebuah 750 watt microwave
rumah tangga, pada energi penuh, dalam waktu berkisar 90-120 detik.
Studi itu menunjukkan :
a. pada semua kasus, luka bakar memproduksi demarkasi yang sempurna, luka bakar penuh.
b. luka bakar yang mana lebih ekstensif di permukaan tubuh mendekati alat pengeluaran ( biasanya bertempat di atas dari oven ).
c.
secara mikroskopik kasar menunjukkan penemuan yang konsisten dari
perubahan relative lemak subcutaneous, selain luka bakar pada kulit di
atas atau di bawah otot ( perubahan relative lapisan jaringan ). Arus
nuklir tidak ada.
d. mikroskopik electron tidak memperlihatkan kerusakan selular atau organel yang berarti.
3.
Hampir luka bakar karena microwave adalah karena ketidaksengajaan,
berkaitan dengan memasukkan tangan ke dalam microwane dengan tidak
mematikan benar-benar terlebih dahulu, atau karena ingesti dari cairan
panas yang dipanaskan ke dalam microwave. Pada satu pelaporan, seorang
pria yang menggunakan tambalan nitro transdermal mengalami luka baker
derajat dua di dekat tambalan itu, ketika dia duduk di sebelah oven
microwave yang bocor. Diperkirakan, plastic alumunium yang ada pada
tambalan tersebut merupakan factor yang menyebabkan kebakaran tersebut.
4.
Bentuk tidak biasa dari penyiksaan anak pernah dilaporkan pada tahun
1987 oleh Alexander et el yang mana berhubungan dengan dua kasus
terpisah
yang
mana seorang bayi perempuan umur 5 minggu, dan seorang anak laki-laki
umur 14 bulan yang terbakar karena diletakkan di oven microwave yang
sedang dinyalakan.
F.
Luka bakar kimia adalah diproduksi oleh agent kimia seperti asam kuat
dan alkali, sama seperti agent lain seperti fosfor dan fenol. Luka bakar
menghasilkan perubahan yang lebih lambat daripada luka bakar akibat
agent panas.
1. Ekstensi luka tergantung dari :
a. Agent kimianya.
b. Kekuatan atau konsentrasi dari agent kimianya.
c. Durasi kontak dengan agent tersebut.
2. Agent alkalin :
a. Cenderung lebih menjadi luka berat disbanding agent asam ;
b. Yang dapat menyababkan luka baker umumnya memiliki pH > 11.5
c. Sering menghasilkan luka yang cukup tebal
d. Menghasilkan luka yang menimbulkan nyeri; dan menusuk kulit dan licin.
3. Agen
asam biasanya menghasilkan hanya sebagian dari ketebalan luka, yang
mana diikuti dengan eritema dan erosi yang superficial saja.
VII. Kematian karena Kecelakaan Kebakaraan (Cepat atau Lambat)
A. Kematian
Cepat adalah kematian yang dilihat menurut waktunya dalam beberapa
menit sampai berapa jam dari kecelakan, ini dapat terjadi dari :
1. Shock Neurogenic dalam kaitan dengan sakit yang sangat parah
2. Luka
akibat panas. kulit yang terbakar menyebabkan kehilangan cairan dalam
jumlah besar, yang dapat menyebabkan terjadinya hypovolemia, Shock dan
kegagalan ginjal akut
3. Luka Pada Pernafasan, yang harus dicurigai dalam setiap kasus dimana warna hitam sangat kelihatan di sekitar atau dimulut
a.
Itu mungkin adalah luka-luka yang di akibatkan panas di saluran udara
mucosa, yang dapat mengakibatkan kearah mucosal necrosis dan edema,
bronchospam, atau mengakibatkan saluran udara bagian atas edema mengenai
pangkal tenggorokan,
b.
Penyebab utama dari kematian luka pada pernafasan adalah racun karbon
monoksida. karbon monoksida adalah suatu gas tanpa warna dan tidak
berbau yang di produksi dari bahan bakar karbon ( bensin, sejenis metan,
gas-alam, minyak, kayu, batubara atau briket arang, tembakau) yang
dibakar. karbon monoksida mengikat kepada hemoglobin dengan gaya gabung
lebih dari 200 kali lebih besar dibanding oksigen, dan melakukan
pemindahan oksigen dari hemoglobin molekul, mendorong ke arah jaringan
dalam hypoxia dan kematian. Tingkatan darah postmortem carbon hemoglobin
(COHb) harus ditentukan dalam semua kasus yang menyertakan api
1. Dalam beberapa hal, tingkat CO yang mematikan mungkin ada ketika jelaga bersih di (dalam) saluran udara tidak ada
2.
Jika dalam kasus kebakaran besar atau kilat api di mana korban dengan
cepat terkena nyala api, jelaga biasanya tidak hadir di jalur udara di
tempat itu dan tingkatan postmortem CO tidak berarti
3.
Cakupan tingkat CO (30–60 %) di kasus kematian karena api lebih rendah
dari bunuh diri sebagai hasil dari penghisapan uap, di mana cakupan
bervariasi dari 60-80% untuk orang dewasa yang sehat.
4. Pecandu rokok mungkin telah mengangkat konsentrasi baseline carboxyhemoglobin 8-10%
5.
Dalam keadaan dimana racun carbon monoksida telah terjadi tetapi
kematian tertunda. Mungkin terjadi bilateral nercois globus palidus atau
perubahan anoxic di cerebral cortex, hippocampus, otak besar, atau
substantia nigra. perubahan ini adalah bukan spesifik dan mungkin
dilihat dari kematian di mana hypoxia telah terjadi
6 Jika
korban selamat, mungkin ada keterlambatan sistem nerves pusat sequelae,
termasuk kebutaan berkenaan dengan selaput, parkinsonism, kehilangan
memori, atau kepribadian berubah
7.
Perbedaan Atmospir tingkatan CO akan mendorong kearah bermacam-macam
konsentrasi dan gejala darah carboxyhemoglobin, tergantung ketika waktu
penghisapan, [tabel] 13.3 menguraikan gejala yang tampak pada orang
dewasa pada berbagai konsentarsi COHB hubungannya dengan waktu dan
tingkatan CO di atmosfir
c. Sebagai tambahan terhadap CO, asap boleh berisi lain agen berbahaya
1.
Sianida ada di dalam asap. gas sianida dengan cepat diserap dan
bertindak dengan menghambat sistem cytochrome oxidase untuk pemanfaatan
oksigen selular. Bukti yang tepat bahwa sianida bisa mengakibakan
kematian dari korban kebakaran masih dievaluasi.
2. Acrolin
adalah suatu aldehid reaktif yang diproduksi dari kayu dan produk
minyak tanah dapat menyebabkan luka-luka/kekurangan protein
denaturation.
3. Hydrochloric
Acid diproduksi oleh pembakaran beberapa plastik, perabot, komponen
bangunan; serangan edema dapat ditunda untuk 2-12 jam setelah terjai.
tingkatan racun Hydrochloric Acid tetap ada beberapa jam setelah keluar
dari api
4.
Toluene Diisocyanate, mungkin diproduksi dari pembakaran polyurethane (
produk buatan yang secara luas digunakan untuk bantal, kasur, dukungan
permadani) boleh menyebabkan bronchospasm.
5.
Nitrogen dioksida, diproduksi dari n mobil atau sampah argicultural,
bahkan konsentrasi tinggi dapat menyebabkan broncho/laryngospasm dan
edema berkenaan dengan paru-paru, penyakit interetitial paru-paru kronis
mungkin adalah suatu kesulitan pada akhirnya.
B. Kematian yang lambat terjadi sebagai hasil beberapa kemungkinan komplikasi
1. Kehilangan cairan berkelanjutan yang terjadi shock yang tertunda atau kegagalan ginjal
2. Kegagalan
respiratory terjadi ketika tertundanya kerusakan epithelium yang
berhubungan dengan pernapasan dan pengembangan orang Sydrom kesulitan
yang berhubungan dengan pernafasan pada orang dewasa
3. Sepsis boleh terjadi terutama semata dalam luas luka bakar atau dalam kaitan dengan radang paru paru
4. Kematian dari pulmanary embolus sekunder untuk memperpanjang immoblisasi
VIII. TUBUH YANG HANGUS
Saat memeriksa tubuh yang hangus, seorang ahli patologi seharusnya mengetahui beberapa keistimewaan unik yang mungkin ada.
A. Tubuh
yang hangus bisa menghasilkan robekan besar pada kulit dan atau pada
otot. Robekan yang terjadi adalah sejajar dengan serabut otot yang
seharusnya tidak terjadi pada trauma antemortem.
B. Tubuh
terbentuk “pugilistic” attitude, dengan keadaan fleksi pada ekstremitas
atas, mirip seperti petinju yang tangannya berada di depan wajahnya.
C. Bagian-bagian
dari tubuh seperti jari tangan, jari kaki, bagian dari ekstremitas
kadang-kadang dapat berpisah seperti tertinggal atau berpindah dari
tempat kebakaran. Fraktur pada ekstremitas akibat panas dapat saja
terjadi, dan seharusnya tidak keliru dengan fraktur antemortem, yang
mana biasanya terdapat perdarahan jaringan lunak disekitarnya.
D. Gambaran
radiografi seluruh tubuh pada postmortem, seharusnya dilakukan pada
semua kasus pada pembakaran yang sangat parah, hal ini dilakukan untuk
menentukan adanya peluru atau barang pengenal lainnya seperti logam pada
jahitan luka, dsb.
E. Kerusakan
pada tengkorak dapat terjadi pada tubuh yang hangus dan dibutuhkan
untuk membedakan dari trauma antemortem. Kadang-kadang “trauma panas
epidural” bisa berbentuk seperti darah yang mendidih yang keluar dari
vena sinus. Postmortem “trauma panas epidural” biasanya berwarna
keciklatan, sponge dan lokasi terdapat pada daerah frontal, temporal
atau parietal dari otak.
F. Berat
dan panjang pengukuran tubuh yang terbakar biasanya tidak dapat
dipercaya karena artefak mengurangi hasil dari ukuran berat dan panjang
antemortem yang sebenarnya.
G. Walaupun
luka bakar hangus terdapat disebelah luar, sebelah dalam organ dan
cairan tubuh biasanya terlindungi dengan baik. Organ dalam dapat dibuka
dengan pisau berbentuk lingkaran atau jejak senapan angin yang tidak
nyata dari luar. Biasanya, darah, cairan bola mata, empedu dan urin
dapat digunakan untuk pemeriksaan toksikologi.
H. Adanya
carbon hitam (jelaga) dalam saluran nafas bagian atas dan bawah, dapat
dengan mudah terlihat pada pemeriksaan kasar, dan dapat dipertimbangkan
untuk dijadikan indikasi yang bermakna. Tetapi, bagaimanapun keracunan
karbon monoksida dapat terjadi tanpa terlihat jelaga di saluran nafas.
IX. KLASIFIKASI KEMATIAN AKIBAT KEBAKARAN
Pada kebanyakan kematian akibat kebakaran biasanya merupakan kasus kecelakaan, pembunuhan atau kasus bunuh diri.
A. Sebagian
besar kematian terbakar akibat kecelakaan terjadi sebagai akibat dari
merokok, anak-anak yang sedang main korek api atau dari kesalahan kawat
listrik.
B. Jika
api diputuskan dengan sengaja dan hati-hati, kemudian menyebabkan
seseorang mati sebagai akibat kebakaran atau disebabkan komplikasi dari
luka-luka yang berasal dari api, maka mati diklasifikasikan sebagai
kasus pembunuhan. Untuk menentukan sumber kebakaran, sebaiknya ahli
patologi menunggu laporan dari petugas polisi pemadam kebakaran.
C. Kematian
kebakaran pada kasus bunuh diri kadang-kadang terjadi dengan cara
seseorang menyirami dirinya dengan bensin atau beberapa zat yang mudah
terbakar lainnya yang kemudian mengakibatkan zat itu terbakar. Sisa
pakaian sebaiknya ditahan untuk di analisa dan dilihat apakah terdapat
zat yang mudah menguap. Jika tidak terdapat pakaian, analisa dapat
dilakukan dari potongan jaringan tubuh dengan cara yang sama. Pakaian
atau jaringan tubuh tersebut sebaiknya ditempatkan pada logam atau botol
kaca dengan penutup udara yang erat.
X. PEMBAKARAN ANTEMORTEM VERSUS PEMBAKARAN POSTMORTEM
Biasanya tidak mungkin untuk membedakan pembakaran antemortem dari pembakaran postmortem.
A.
Pada kasus dimana korban dapat bertahan untuk beberapa waktu saat
terjadi kebakaran, pemeriksaan mikroskopis bisa tidak menyatakan reaksi
penting, seperti adanya infiltrasi peradangan. Hal ini berguna untuk
memanaskan trombosis dari pembuluh dermal, dan mencegah masuknya
neutrofil ke jaringan luka, atau barangkali kumpulan dari dsebagian
besar peradangan sel dalam tempat lain dari tubuh, seperti paru-paru,
yang dapat berkembang menjadi pneumonia.
B.
Hal ini mungkin untuk menghasilkan pembakaran postmortem pada kulit
yang meniliki gambaran kasar serupa pada pembakaran antemortem. Jiika
api dibakar pada kulit setelah mati, lepuhan bisa dihasilkan dengan atau
tanpa pinggiran jaringan yang kemerahan, sehingga memberikan gambar
hyperemic appearence.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar